Sabtu, 16 April 2011

UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BAJO DI PULAU KATELA MELALUI PENDIDIKAN BERBASIS ECOLITERACY: SEBUAH ANCANGAN


BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan kenyataan, masyarakat Bajo atau biasa disebut juga orang laut masih banyak yang buta huruf. Budaya fasalistik juga masih melekat kuat dalam kepribadian mereka, seperti kurang kreatif dan produktif, cepat puas dengan apa yang diperoleh, pasrah pada nasib, sikap konsumtif dan boros, serta sikap menutup diri pada pihak-pihak lain. Sikap-sikap tersebut telah menyebabkan masyarakat Bajo menjadi tidak berdaya. Kondisi ketidakberdayaan itu, mengundang perhatian untuk mencari solusi yang dapat mengangkat harkat dan martabat, serta derajat masyarakat Bajo. Salah satu solusi alternatifnya adalah melakukan pemberdayaan melalui jalur pendidikan yang sesuai dengan lingkungan sosial dan budaya masyarakat Bajo. Hal ini diperkuat dengan pendapat yang dikemukakan Anwar Hafidz mengatakan, penyebab ketertinggalan bidang pendidikan bagi etnis Bajo adalah tidak mendekatnya pendidikan formal ke kawasan suku Bajo. "Keadaan tersebut membuat etnis Bajo sama sekali tidak tertarik dengan pendidikan dan enggan pergi sekolah" (dalam http://arif-ramdan.blogspot.com/2007/07/25). Lebih lanjut Anwar Hafidz mengatakan bahwa saat ini pendidikan bagi etnis Bajo masih sangat jauh dari yang diharapkan, permasalahannya masih berkutat pada belum relevannya sistem pendidikan bagi etnis Bajo. Anak-anak Bajo menurut Anwar memerlukan pendidikan alternatif dan kesesuaian dalam belajar untuk mengantarkan masyarakat Bajo masa depan yang lebih berpendidikan dan mampu sejajar dengan etnis lain di Sulawesi yang selangkah lebih maju ketimbang etnis Bajo (dalam (http://arif-ramdan.blogspot.com). Karenanya, diperlukan pengkajian tentang model pemberdayaan orang Bajo melalui pendidikan berbasis ecoliteracy, yakni suatu upaya menjadikan masyarakat Bajo agar melek huruf, memiliki keterampilan vokasional sehingga mampu menciptakan usaha-usaha produktif dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip ekologis (lingkungan laut) sebagai unsur yang membentuk kepribadian dan budaya mereka. Proses pembelajaran akan berlangsung dalam sanggar dan alam bebas dengan kegiatan-kegiatan bimbingan baca, tulis dan hitung serta pemberian pelatihan keterampilan kecakapan hidup serta aksi tanggap lingkungan. Keterampilan kecakapan hidup yang akan diberikan lebih bersifat keterampilan kejuaraan/vokasional yang telah ada basisnya dalam kehidupan masyarakat Bajo seperti budidaya ikan, budidaya rumput laut, pengeringan ikan, pembuatan kerupuk atau kue-kue dari hasil-hasil laut, dan lain-lain.
Asumsi dasar penulisan karya ilmiah ini adalah mengingat dewasa ini terdapat + 16.420.000 jiwa penduduk Indonesia tinggal di daerah pesisir dan sebagaian besar hidup di bawah garis kemiskinan, berpendidikan rendah, dan sering termarginalkan serta belum mampu berpartisipasi penuh dalam pengelolaan sumber daya pesisir (http://www.dkp.go.id/content.php?c=4063). Masyarakat Bajo sebagai salah satu bagian dari masyarakat pesisir, khususnya yang bermukim di Pulau Katela Kecamatan Tiworo Kepulauan Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara umumnya hidup di bawah garis kemiskinan dan kebodohan. Mereka ini miskin karena keterbatasan infrastruktur dasar dan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan (umumnya belum melek huruf) untuk dapat mengeksploitasi potensi sumber daya alam di wilayahnya yang melimpah ruah, terutama untuk kegiatan agroindustri dan pengolahan hasil laut. Selain itu, masih ada perilaku menyimpang dari sebagian warga dalam mengeksploitasi hasil-hasil laut dengan menggunakan bahan peledak yang dapat membahayakan jiwa mereka dan keseimbangan ekosistem, serta biota laut.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut.
  1. Mengapa diperlukan pemberdayaan masyarakat Bajo di Pulau Katela melalui pendidikan alternatif?
  2. Alasan-Alasan apa sajakah sehingga pemberdayaan masyarakat Bajo di Pulau Katela melalui pendidikan berbasis ecoliteracy menjadi pilihan? 



2.3 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dalam karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mengetahui perlunya pemberdayaan masyarakat Bajo di Pulau Katela melalui pendidikan alternatif.
  2. Untuk mengetahui alasan-alasan pemberdayaan pendidikan berbasis ecoliteracy menjadi pilihan untuk pemberdayaan masyarakat Bajo di Pulau Katela. 

2.4 Manfaat Penulisan
            Karya ilmiah ini diharapkan dapat berguna/bermanfaat bagi pengembangan teori-teori pendidikan, teori-teori pemberdayaan masyarakat pesisir. Kegunaan lain bagi khalayak sasaran (masyarakat Bajo di Pulau Katela) adalah (1) dapat dirumuskan model pemberdayaan berbasis pendidikan ecoliteracy sebagai upaya meningkatkan harkat, martabat, dan taraf hidup masyarakat Bajo melalui pemberantasan buta baca, tulis dan hitung, serta pengembangan keterampilan khusus (vokasional skill) dan penanaman nilai-nilai sense of belonging  dengan alam. Manfaat yang diharapkan sebagai implikasi dari perubahan kondisi yang terjadi setelah pemberdayaan dilaksanakan yakni manfaat secara ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.
a.       Manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Bajo melalui bimbingan dan pelatihan vocational skill. Dengan keterampilan ini, masyarakat Bajo dapat menciptakan usaha baru atau usaha sampingan yang dapat menambah penghasilan rumah tangga.
b.      Manfaat sosial budaya, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Bajo melalui pelatihan dan bimbingan keterampilan produktif berbasis sosial budaya.
c.       Manfaat lingkungan, menanamkan kecintaan masyarakat terhadap lingkungan serta mencegah keterlibatan masyarakat Bajo dalam kegiatan penangkapan ikan dan pengumpulan hasil-hasil laut lainnya secara berlebihan yang dapat membahayakan lingkungan biota laut.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
            Dalam bagian ini, terdapat dua satuan konsep yang harus dijelaskan lebih dahulu yakni konsep pemberdayaam dan masyarakat pesisir. Pemberdayaan adalah sebagai proses memampukan dan memandirikan masyarakat yang didasarkan pada unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat (Hikayat, 2001). Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang berdiam dan mengembangkan kehidupan sosial di perairan laut atau dekat perairan laut dan secara khas menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di atas perairan laut.
            Pemberdayaan masyarakat pesisir dalam makalah ini adalah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat suku Bajo sebagai salah satu kelompok masyarakat yang mengembangkan kehidupan di perairan laut dan hidup dalam kondisi marginal, dengan mendorong motivasi dan membangkitkan kesadaran bahwa mereka memiliki kearifan lokal yang potensial yang bisa dikreasi dan dikembangkan dalam bentuk tindakan nyata, sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat mereka.

2.2 Teori Pemberdayaan Masyarakat
            Term pemberdayaan mulai tampak kepermukaan sekitar dekade 1970-an dan terus berkembang sepanjang dekade 1980-an hingga dekade 1990-an, seiring dengan lahirnya aliran pemikiran post-modernisme pada paruh abad ke-20. Sehingga konsep pemberdayaan dipandang sebagai bagian atau sejiwa-sedarah dengan aliran post-modernisme sebagai aliran pemikiran yang menitikberatkan pada jargon-jargon antisistem, antistruktur dan antideterminisme (Hikayat, 2001).
            Menurut Kartasasmita (1997: 74) pemberdayaan masyarakat adalah upaya memperkuat dan meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang berada dalam kondisi tidak mampu dengan mengandalkan kekuatannya sendiri sehingga dapat keluar dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan, atau proses memampukan dan memandirikan masyarakat. Zubaedi (2007: 41-42) menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan harkat dan martabat golongan masyarakat yang sedang dalam kondisi miskin, sehingga mereka dapat melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Pemberdayaan masyarakat mencerminkan paradigma alternatif pembangunan yakni yang berpusat kepada rakyat, partisipasif, memberdayakan dan berkelanjutan (Chambers, 1993).
            Teori-teori yang dikemukakan di atas digunakan untuk mendukung teori hegemoni dalam mengungkap langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat kearifan lokal dalam pemberdayaan masyarakat suku Bajo. Mengacu pada teori pemberdayaan masyarakat, ketidakberdayaan masyarakat suku Bajo disebabkan oleh tersumbatnya saluran demokratisasi, sehingga masyarakat suku Bajo tidak memiliki kebebasan beraktivitas dalam mengelola aset-aset budaya lokal. Pada gilirannya unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat suku Bajo tidak berkembang. Untuk itu, perlu ada upaya memandirikan masyarakat suku Bajo dengan mengkreasi unsur-unsur budaya yang mereka miliki. Masyarakat suku Bajo akan tetap berada dalam lingkaran kemiskinan dan keterbelakangan, kecuali ada tindakan pembelaan dan membangun kemampuan masyarakat tersebut dengan membangkitkan kesadaran akan potensi yang mereka miliki dan berupaya mengembangkan potensi tersebut menjadi tindakan nyata.

Konsep Pendidikan Ecoliteracy
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) ini diawali sekelompok masyarakat dengan pemahaman kognitif yang memadai tentang hakikat dan prinsip-prinsip ekologi. Proses meningkatkan pemahaman inilah yang dinamakan ecological literacy atau ecoliteracy.
Ecoliteracy, sebuah paradigma baru yang dipopulerkan oleh Fritjof Capra, bertujuan meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat. Ecoliteracy berupaya memperkenalkan dan memperbarui pemahaman masyarakat akan pentingnya kesadaran ekologis global, guna menciptakan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kesanggupan bumi untuk menopangnya. Dengan tingkat "melek ekologis`" yang baik, desain-desain dalam berbagai bidang kehidupan juga akan berbasis ekologi. Dengan demikian, setiap bidang kehidupan (eco-economy, eco-farming, eco-management, hingga eco-city) dapat dirancang dengan corak ekologis yang kental. Hal ini membuat ecoliteracy menjadi instrumen yang sangat penting. Terutama, karena kebijakan-kebijakan yang mengintegrasikan pembangunan dan keseimbangan ekologis, hanya akan muncul dari stakeholder yang mengetahui dengan baik nilai-nilai ekologi tersebut. Ecolteracy menjadi amat penting di negeri di mana para penguasa dan pengusaha berkolusi melahirkan kebijakan yang tidak prolingkungan (http://akubaskoro.blogdrive.com/archive/23.html).
 Lebih lanjut konsep pendidikan ecoliteracy adalah kesadaran akan kemelekan huruf pada masa depan planet bumi dengan memadukan prinsip-prinsip ekologis dipakai sebagai sistem dan jaringan untuk menyimak kehidupan bumi. Dengan kata lain Nature of Wisdom atau kebijaksanaan alam pun menjadi esensi dari pendidikan berbasis ecoliteracy.
  
2.4 Temuan Hasil penelitian yang Relevan                             
            Upaya pemberdayaan masyarakat suku Bajo senantiasa menjadi topik perbincangan yang menarik perhatian banyak kalangan. Gagasan tersebut terbentuk bukan hanya karena masyarakat suku Bajo sebagai bagian dari masyarakat pesisir, umumnya hidup sebagai nelayan tradisional dan sangat rentan dengan kemiskinan, memiliki akses yang terbatas terhadap pemanfaatan sumber daya pesisir di wilayahnya, bahkan senantiasa tereksploitasi oleh pihak-pihak di luar kawasan pesisir (Ali Basri, 2003, 2005; Anwar 2004, 2007). Tetapi juga, karena masyarakat yang biasa dijuluki sebagai orang laut atau manusia air tersebut memiliki suatu investasi sosial yang dapat dikonstruksi sebagai suatu katalis yang dapat mengantarkan orang Bajo menuju ketahanan sosial budaya dan ekonomi. Investasi sosial yang dimaksud adalah nilai-nilai kearifan lokal.
            Sesuai dengan dasar teoritis penelitian ini yang memandang masyarakat suku Bajo sebagai teks dan memposisikan keseluruhan teks yang ada sebagai sumber data yang di dalamnya terdapat data penelitian yang akan diolah dan dianalisis, kajian atas hasil-hasil penelitian tentang masyarakat pesisir lainnya, terlebih dulu perlu dilakukan.
Beberapa penelitian tentang masyarakat suku Bajo di antaranya adalah “Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Melalui Pelatihan Keterampilan Budidaya Ikan Laut dalam Keramba (Kaji Tindak pada Masyarakat Suku Bajo di Kecamatan Soropia Kabupaten Kendari)” oleh Anwar (2004); “Pemberdayaan Perempuan Nelayan Bajo: Perubahan Sosial Melalui Pembelajaran Vocational Skill” oleh Anwar (2007); “Orang Bajo di Desa Bungin Permai : Dinamika Sosial Budaya dan Ekonomi Masyarakat Penghuni Laut” oleh Ali Basri (2003); “Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Sistem Mata Pencaharian Orang Bajo di Desa Bungin Permai” oleh Ali Basri (2005); “Perubahan Pola Hidup Orang Bajo di Desa Bungin Permai dari Nomaden di Laut Menjadi Menetap di Laut” oleh Ali Basri (2006).
Hasil penelitian Anwar (2004) tentang pemberdayaan masyarakat nelayan melalui pelatihan budidaya ikan laut dlam keramba dengan fokus kajian pada masyarakat suku Bajo merupakan laporan hasil penelitian pada Lembaga Penelitian Universitas Haluoleo Kendari. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan tentang budaya dan etos kerja yang tinggi, kemampuan kerjasama yang baik dan sikap reciprocity orang Bajo. Hasil penelitian Anwar (2007) tentang pemberdayaan perempuan nelayan Bajo, yang semula merupakan disertasi S3 pada Program Doktor Pendidikan Luar Sekolah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), namun kemudian diterbitkan dalam bentuk buku sejak tahun 2005 dan dicetak kembali 2007, merupakan hasil penelitian dan pengembangan terhadap perempuan suku Bajo. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan vikasional mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan produktif dan kesadaran berwiraswasta perempuan nelayan Bajo. Dalam hasil penelitian itu juga dinyatakan bahwa sebenarnya masyarakat suku Bajo telah memiliki dasar-dasar pengetahuan vokasional yang diperoleh secara turun-temurun dari nenek moyang mereka dan juga diperoleh dari hasil belajar mereka dengan lingkungan laut.
Hasil penelitian Anwar (2004 dan 2007) di atas, semakin memperjelas keaslian atau pentingnya penelitian ini bahwa masyarakat suku Bajo memiliki kearifan lokal yang belum dikembangkan secara optimal dan belum dikaji secara mendalam melalui kajian-kajian ilmiah. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut oleh penelitian ini dijadikan sebagai petunjuk awal bahwa rujukan untuk mengkaji lebih dalam kearifan-kearifan lokal masyarakat suku Bajo yang diwarisi secara turun-temurun baik dari ajaran nenek moyang, maupun dari hasil pengalaman hidup mereka berinteraksi dengan alam.
Hasil penelitian Ali Basri yang berjudul “Orang Bajo di Desa Bungin Permai : Dinamika Sosial Budaya dan Ekonomi Masyarakat Penghuni Laut” merupakan penelitian sebagai tesis S2 pada Program Magister Ilmu Sosial Universitas Padjajaran. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan orang Bajo merupakan komunitas masyarakat yang berbudaya  laut secara alami telah menyatukan dirinya dengan kehidupan di laut. Mereka berpandangan bahwa laut adalah kehidupan, laut adalah kebun sekaligus pekarangan atau halaman rumah mereka. Orang Bajo berkeyakinan bahwa mereka berasal dari laut, hidup di laut, dan sebagai penguasa laut yang dapat memberikan rejeki, kebaikan, kesehatan dan melindungi manusia dari bencana.
Secara konseptual temuan Ali Basri (2003) di atas, oleh rencana penelitian ini dipandang sebagai rujukan bahwa masyarakat suku Bajo merupakan salah satu bagian masyarakat adat yang telah memiliki identitas budaya tersendiri yakni budaya laut dan membangun kehidupannya dengan ciri khas budaya laut pula. Masyarakat adat atau masyarakat asli umumnya memiliki seperangkat nilai, adat-istiadat, aturan-aturan dan pengetahuan-pengetahuan lainnya, yang senantiasa berpegang teguh bahkan menjadi pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan.
Keterpinggiran masyarakat suku Bajo yang juga merupakan bagian dari masyarakat asli/adat yang bermukim di perairan laut dapat dilihat dari hasil penelitian Ali Basri (2005 dan  2006) bahwa masyarakat suku Bajo sebagai komponen masyarakat pesisir merupakan salah satu kelompok masyarakat yang sangat rentan didera kemiskinan. Keterhimpitan ekonomi mendorong masyarakat suku Bajo untuk melakukan diversifikasi pekerjaan, membangun jaringan sosial dengan memobilisasi tenaga ibu-ibu atau istri dan anak-anak mereka untuk melaut bersama suami sebagai salah satu strategi bertahan hidup. 

BAB III. METODE PENULISAN

3.1 Prosedur Penulisan
            Secara metodologis tulisan ini dilaksanakan melalui prosedur penulisan dan pengembangan (research and development) atau disingkat R & D dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Oleh Borg dan Gall (1989) dinyatakan bahwa penelitian/penulisan dan pengembangan adalah suatu proses yang digunakan untuk menvalidasi produk.

3.2 Subjek Pengambilan Data
             Subjek yang menjadi sasaran dalam penulisan makalah ini adalah masyarakat Bajo yang bermukim Pulau Katela Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau ini dipilih sebagai lokasi pengambilan data karena didasarkan pada beberapa pertimbangan: (1) Masyarakat Bajo belum memiliki kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dan pentingnya pemeliharaan atau pelestarian ekologi laut, (2) di pulau ini relatif homogen etnik Bajo dengan profesi nelayan tradisional, (3) mereka terisolir dengan dunia luar. Keterangan lain yang dianggap perlu adalah (4) Lingkungan wilayah sasaran: walaupun medannya cukup sulit karena pulau ini berada di atas perairan laut sehingga menyerupai kampung terapung yang terisolir karena tidak ada sarana angkutan transportasi umum, akan tetapi lingkungan wilayah sasaran sangat mendukung sebab sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan ternyata masyarakat Bajo merupakan salah satu kelompok masyarakat yang ramah, bersahabat dan mendambakan pembinaan. (5) Sedangkan pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam pembinaan mereka dengan menggunakan model program konvensional selama ini, (6) Lalo bajo (pimpinan tradisional suku Bajo) yang akan dijadikan pembinaan dalam kegiatan ini, sangat terbuka dan antusias serta mendukung sepenuhnya kegiatan yang dapat meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Bajo.



3.3 Instrumen
            Agar kerja penjaringan data berlangsung sesuai rencana, maka penulis menggunakan beberapa sarana teknis sebagai instrumen, yaitu kartu-kartu data, pedoman wawancara. Kartu-kartu data digunakan untuk pencatatan, kategorisasi dan klasifikasi data. Sedangkan pedoman wawancara digunakan sebagai pengarah dalam berlangsungnya wawancara.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan makalah ini, terdiri atas (1) pengamatan, (2) wawancara, (3) studi dokumen, (4) diskusi terfokus, dan (5) angket. Sumber data terdiri atas kepala desa, tokoh pemuda, tokoh-tokoh adat, dan anggota masyarakat lainya yang direkrut secara random. Secara umum data yang dikumpulkan dalam penulisan makalah ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan untuk memformulasikan model pemberdayaan masyarakat Bajo melalui pendidikan berbasis ecoliteracy yang kompherensif dan aplikatif serta dijadikan dasar untuk merumuskan rekomendasi.

5. Teknik Analisis Data
            Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif. Analisis data dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut (a) menyusun satuan-satuan seluruh data yang terkumpul dari hasil wawancara, observasi, studi kepustakaan dan diskusi kelompok terfokus dibagi satu per satu, dikumpulkan sesuai golongannya, kemudian dilakukan reduksi data guna mengeliminir data yang kurang relevan, membuat abstraksi dan menyusun satuan-satuan data, (b) melakukan kategorisasi data, (c) menyusun hubungan antarkategori data yang lainnya, dan melakukan interpretasi makna-makna setiap hubungan data tersebut, (d) memberikan interpretasi dan hubungan antarkategori data yang sudah dikelompokkan sehingga dapat ditemukan makna kesimpulannya (Maleong, 1993).

BAB IV. PEMBAHASAN

4.1  Urgensi Pemberdayaan Masyarakat Bajo di Pulau Katela Melalui Pendidikan Alternatif

Salah satu isu kursial yang telah banyak diungkap dalam berbagai seminar dan pengkajian pembangunan di Sulawesi Tenggara adalah isu kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat pesisir. Hasil penelitian Sarman dan Sajogyo (2005:5) menunjukkan bahwa penduduk miskin di pedesaan Sulawesi Tenggara mencapai 8,4 % dan terdapat 463 desa tertinggal. Sebagian besar penduduk miskin pedesaan bermukim di wilayah pesisir pulau-pulau kecil. Sementara itu, pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tenggara mencapai 32 %, di antaranya, 18, 5 % terdapat di pedesaan. Sebanyak 10 % kemiskinan di pedesaan terjadi pada masyarakat pesisir dan pulau-pulau terpencil (BPS Sultra, 2007). Mereka ini miskin karena keterbatasan infrastruktur dasar dan rendahnya seumber daya manusia (SDM).
            Menurut Tampubolon (2002: 841), ketiadaan akses terhadap sumber daya yang tersedia menyebabkan masyarakat miskin akan tetap berada dalam lingkaran kemiskinan. Lebih lanjut Tampubolon (2002) menyatakan bahwa salah satu penyebab kemiskinan masyarakat pedesaan adalah lemahnya aspek sumber daya manusia seperti pendidikan formal yang rendah, dan tidak memiliki keterampilan produktif. Untuk itu diperlukan kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap orang miskin, dengan mengusahakan kegiatan sosial ekonomi produktif atau kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Tolak ukur peran-peran tersebut bukan pada jumlah volume atau kuantitas program dan retorika, tetapi lebih pada aktualisasinya karena telah banyak program pengentasan kemiskinan, tetapi aktualisasinya di lapangan sangat sedikit (Soekarwati, 1999:43; Hasibuan, 1999: 56).
            Menurut Idris (1993), terjadinya kemiskinan, khususnya kemiskinan masyarakat pesisir/nelayan terjadi sebagai korban dari pembangunan yang tidak sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Untuk itu, dalam proses pemberdayaan masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir, perlu partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pelestarian pembangunan (R. Duhari, dalam http://www.sinarharapan.co.id/0308/20/opi01.html).
            Salah satu aksi yang dapat dilakukan untuk membantu penduduk miskin sehingga dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan kebodohan adalah pemberdayaan. Karena pemberdayaan adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat penduduk miskin dengan mendorong motivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki dan berupaya mengembangkan potensi tersebut menjadi tindakan nyata melalui kekuatan mereka sendiri (Zubaedi, 2007; Himat, 2001; Suhendra, 2005). Pemberdayaan merupakan suatu aksi, gerakan dan strategi dalam mengatasi masalah-masalah krusial individu dan kelompok. Upaya pemberdayaan tersebut difasilitasi oleh pihak lain dalam berbagai aspek, baik ekonomi, sosial budaya, pendidikan, politik, hukum dan sebagainya (Nurhadi, 2007: 68). Setiap perencanaan pembangunan yang diarahkan pada pemberdayaan masyarakat paling tidak harus memenuhi unsur-unsur pokok: (1) penyadaran, (2) perencanaan, (3) pengorganisasian, (4) pelaksanaan, dan (6) pengembangan (Anwar, 2007).
            Dalam proses pemberdayaan masyarakat marginal termasuk masyarakat Bajo di Pulau Katela dapat dilakukan melalui delapan langkah, yaitu  (1) menyusun kelompok kecil sebagai penerima awal atas rencana pemberdayaan, (2) mengidentifikasi/membangun kelompok warga belajar, (3) memilih dan melatih fasilitator kelompok, (4) mengaktifkan kelompok belajar, (5) menyelenggarakan pertemuan-pertemuan fasilitator, (6) pendukung aktivitas kelompok sedang berjalan, (7) mengembangkan hubungan di antara kelompok, dan (8) menyelenggarakan sebuah lokakarya untuk evaluasi. Dalam pemberdayaan melalui pendidikan, para pendidik berfungsi penolong atau fasilitator orang lain untuk berkembang (Asmin, 2002: 256).
Proses pemberdayaan merupakan jalan menuju perubahan sosial ke arah kehidupan yang lebih baik dengan indikator kesiapan dalam menerima pengalaman baru, dan terbuka terhadap inovasi (Zahara, 2002: 452). Kegiatan pemberdayaan masyarakat marginal hendaknya dilakukan dengan tahap-tahap penyadaran, perencanaan, pengorganisasian, evaluasi dan pengembangan. Sebelum perencanaan perlu proses penyadaran melalui dialog tentang need for assesment, kegiatan perencanaan didahului dengan identifikasi masalah mendasar, mengidentifikasi alternatif solusi, dan memilih beberapa alternatif dengan mempertimbangkan asas efisiensi dan efektifitas, memperhatikan sumber daya yang ada untuk dimanfaatkan dan potensi sosial budaya dan potensi alam yang dapat dikembangkan.
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat miskin, sedikitnya ada dua macam perspektif yang lazim digunakan untuk mendekati masalah kemiskinan, yaitu (1) perspektif kultural, dan (2) perspektif struktural dan situasional. Perspektif kultural mendekati kemiskinan pada tiga tingkatan analisis, yakni individu, keluarga dan masyarakat. Pemberdayaan struktural bekerja terutama melalui program terstruktur dari tingkatan-tingkatan organisasi lewat bantuan teknis terutama dari pemerintah dan organisasi-organisasi sukarela (http:www.diknas.go.id/jurnal/32/pendidikan-polapemberdayaan.nas.htm).
 Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat adalah: (1) berkurangnya jumlah penduduk miskin, (2) berkembangnya usaha pendapatan yang dilakukan oleh penduduk miskin dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada, (3) meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (pendidikan), (4) meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya, (5) meningkatnya kemandirian kelompok dan anggotanya yang ditandai dengan berkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, dan (6) meningkatnya kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan (Sumodininggrat, 1999).
Salah satu kampung nelayan yang berhasil diberdayakan adalah Air Masin, Kukup-Johor. Kegiatan tersebut diawali sejak tahun 80-an dengan usaha pembiakkan udang yang dijual kepada peternak di Pantai Timur Johor, diikuti dengan pendirian perusahaan sederhana untuk pembuatan kerupuk. Hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di pasar lokal tetapi juga diekspor ke Kuwait, Iran, dan Singapura. Bahkan, sejak tahun 90-an Air Masin menjadi daerah pelancongan (http:www.airmasinnet.tripod.com/index.bm.htm). Selain itu, Qoid (2000) juga melakukan penelitian tindakan terhadap nelayan miskin Jawa Timur tentang pengenalan teknologi alat tangkap dogol, penggunaan cool box dalam pengembangan agroindustri perikanan melalui pembinaan kelompok usaha bersama (KUB). Hasilnya di bidang agroindustri yakni bisa terbentuk empat kelompok usaha bersama, yakni KUB pembuatan kerupuk ikan, KUB pengolahan ikan kering, KUB pengolahan ikan pindang, dan KUB pemasaran ikan basah.
Perlu pula dikemukakan hasil penelitian Anwar (2004) tentang pemberdayaan alam bentuk life skills education pada masyarakat nelayan Bajo di Kendari Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian tersebut menunjukkan pendidikan keterampilan hidup dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan aspirasi masyarakat nelayan. Melalui program terbut dapat membuka wawasan mereka, memberikan bekal keterampilan hidup, dan mengubah sikap mental apatis menjadi sikap wirausaha.
Berdasarkan ulasan terhadap hasil-hasil kajian tentang pemberdayaan masyarakat pesisir/nelayan di atas, tampak bahwa kajian tentang pemberdayaan masyarakat pesisir, khususnya masyarakat Bajo melalui pendidikan yang berbasis ecoliteracy masih sangat kurang. Namun demikian, hasil-hasil penelitian dan kajian-kajian ilmiah lainnya tersebut umumnya dapat memberikan kontribusi atas rencana pemberdayaan masyarakat Bajo, khususnya masayarakat Bajo di Pulau Katela. Sebagai hasil dari suatu kegiatan keilmuan, temuan dalam hasil-hasil penelitian tersebut dapat menjadi rujukan terutama dalam mengungkap model pemberdayaan pendidikan berbasis ecoliteracy.
Kajian pemberdayaan masyarakat Bajo dengan konsep pendidikan ecoliteracy dilakukan untuk mewujudkan kemandirian masyarakat Bajo sebagai masyarakat pesisir dengan menciptakan suasana melek huruf kemudian disinergikan dengan pemahaman tentang prinsip-prinsip  kerja ekologi dalam kehidupan bersama di planet bumi. Meminjam istilah Capra (dalam Wiryo 2004) dengan konsep pendidikan seperti ini akan melahirkan kebijaksanaan holistik yang memadukan antara kebjaksanaan alam dan kebijaksanaan manusia sehingga tercipta hubungan yang egaliter antara alam dan manusia, dan manusia sekaligus secara pelan mengubah pola pikir yang selama ini bercorak antroposentris.

2.2    Alasan-Alasan Pemilihan Pemberdayaan Melalui Pendidikan Berbasis Ecoliteracy pada Masyarakat Bajo di Pulau Katela

Masyarakat Bajo di Desa Pulau Katela, merupakan salah satu kelompok masyarakat pesisir di Sulawesi Tenggara yang berprofesi sebagai nelayan tradisional. Dalam melaksanakan aktivitas penangkapan ikan selain menggunakan alat tangkap tradisional, juga seringkali menggunakan alat konvensional berupa bahan-bahan peledak atau bom ikan. Jika hal ini terus dibiarkan dan tidak mendapat perhatian serius, dikhawatirkan akan semakin memperparah kerusakan eksosistem dan biota laut, dan juga mengancam keselamatan jiwa mereka. Kendatipun masyarakat Bajo telah mengenal “teknologi” pembuatan bom ikan, tetapi masyarakat ini secara umum masih buta aksara, dan marginal akibat pola hidup nomaden yang pernah mereka jalani sebelumnya.
Mencermati fenomena masyarakat Bajo tersebut, perlu adanya upaya pencerahan untuk mencerdaskan dan mensejahterakan mereka. Salah satu cara untuk memperbaiki taraf hidup, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, serta mengangkat harkat dan martabat mereka adalah melakukan pemberdayaan dan pendampingan melalui pendidikan alternatif. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan ecoliteracy yang dapat memberi kemampuan praktis, yakni baca, tulis, dan hitung, penanaman nilai-nilai dan keterampilan-keterampilan khusus (vokasional), penanaman pengetahuan tentang prinsip-prinsip ekologi lewat pengalaman belajar secara konkret di dunia nyata yakni laut sebagai lingkungan alam mereka.
Pendidikan alternatif ini diyakini mampu membebaskan masyarakat suku Bajo dari belenggu kemiskinan dan kebodohan, serta tumbuhnya rasa memiliki terhadap lingkungan. Dengan demikian mereka dapat mengeksploitasi potensi sumber daya alam di sekitar mereka secara arif dan bijaksana, tanpa merusak lingkungan hidup. Pada gilirannya masyarakat Bajo dapat meningkatkan kualitas hidupnya dan mampu mensejajarkan diri dengan masyarakat lainnya, dalam nuansa kehidupan yang serasi dan selaras dengan alam.
Masyarakat Bajo atau yang biasa dikenal dengan sebutan orang laut atau manusia air. Masyarakat tersebut merupakan masyarakat adat terpencil yang masih kurang bahkan belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan pendidikan (umumnya masih buta baca, tulis dan hitung), dengan tingkat ekonomi dan sosial budaya yang rendah dan masih kurang memahami tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Mereka akan diberdayakan melalui pengorganisasian dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendapatkan bimbingan dan pengajaran mengenai baca tulis dan hitung serta pelatihan dan bimbingan keterampilan kecakapan hidup dan penanaman nilai-nilai lain yang berkaitan dengan pembentukan komunitas-komunitas yang berkelanjutan.
Kondisi masyarakat Bajo seperti itu, termasuk masyarakat Bajo di Pulau Katela, pemberdayaan melalui jalur pendidikan berbasis ecoliteracy, merupakan suatu yang tepat untuk dikembangkan bagi mereka. Model pemberdayaan ini dipilih karena beberapa alasan:
a.       Pertama, masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang kurang beruntung, karena rendahnya tingkat pengetahuan, keterampilan, sikap kreatif, dan aspirasi pendidikan sehingga perlu diberdayakan melalui pengorganisasian dalam kelompok belajar untuk mendapatkan bimbingan dan latihan.
b.      Kedua, jika potensi mereka dapat dikelola secara optimal, baik potensi sosial budaya maupun potensi alam dan pemahaman akan pentingnya pelestarian lingkungan berhasil ditanamkan kepada mereka, maka masyarakat Bajo dapat meningkatkan kesejahteraannya melalui peningkatan pendapatan dari proses peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tanpa harus merusak lingkungan hidup.
c.       Ketiga, sesuai dengan rekomendasi UNESCO bahwa abad XXI program pemberdayaan hendaknya mampu memberikan kesadaran masyarakat sehingga mau dan mampu belajar (learning know or learning to learn). Bahan belajar yang dipilih hendaknya mampu memberikan suatu pekerjaan alternatif kepada peserta didik (learning to do), dam mampu memberikan motivasi untuk hidup dalam era sekarang dan memiliki orientasi hidup ke masa depan (learning to be). Bahan ajar keterampilan selain untuk dirinya sendiri, juga keterampilan untuk hidup bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan hidup dalam pergaulan antarbangsa-bangsa dengan kesamaan dan kesejajaran (learning to live together) (Delors, 1996: 86; Depdiknas, 2002: 3).
d.      Keempat, berdasarkan usulan “Inovatif Konferensi Pendidikan Indonesia Mengatasi Krisis Menuju Pembaharuan”, 23-24 Februari 1999 adalah apa yang disebut dengan pendekatan pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat atau Community Based Education (CBE). Dalam semangat pemberdayaan masyarakat menurut CBE adalah desentralisasi dalam manajemen pendidikan dengan prinsip untuk, oleh dan dari masyarakat, serta pelestarian dan pemanfaatan nilai-nilai tradisional (Depdikbud, 1999: 18). Konsep tersebut mendorong masyarakat bertanggung jawab terhadap pembangunan baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sosial budayanya. Pemerintah juga harus mensinergikan program pembangunan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk kepada masyarakat pesisir sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat pembangunan (http://www.kariadi. 8m.com/sorot.html).
e.       Kelima, lingkungan alam yang terdiri atas berbagai ekosistem yang terbentuk atas berbagai komponen dan saling berinterakasi, secara alamiah menjamin kelangsungan siklus kehidupan. Akan tetapi, akibat pandangan yang bersifat antroposentris yang senantiasa menempatkan manusia di atas makhluk-makhluk yang lain, telah mengakibatkan manusia mengeksploitasi lingkungan hidup secara serampangan yang berujung pada terjadinya kerusakan lingkungan yang sangat serius. Oleh karena itu, manusia harus mengendalikan diri dan turut berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan hidup sebagai wujud kepedulian akan dalil ekologi (Arthana, 2007).
f.       Keenam, berdasarkan kesepakatan Internasional di bidang lingkungan hidup yang digagas oleh United Nation Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Jenairo, menetapkan bahwa asas kesatu Agenda 21 adalah perlunya pembangunan berkelanjutan dengan menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, beserta hak-hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yangs sehat dan produktif serta serasi dan selaras dengan alam. Kemudian asas ketiga Agenda 21 menyatakan pula bahwa menekankan hak membangun yang disertai kewajiban memenuhi kebutuhan akan pembangunan yang disertai kewajiban memenuhi kebutuhan akan pembangunan dan lingkungan untuk generasi sekarang dan yang akan datang secara seimbang (Purba, 2005).
g.      Ketuju, model pemberdayaan telah banyak dilakukan, tetapi pemberdayaan melalui pendidikan berbasis ecoliteracy khususnya masyarakat suku Bajo belum banyak, bahkan mungkin belum ada yang mencoba melakukannya.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka pemberdayaan melalui jalur pendidikan berbasis ecoliteracy dianggap cukup strategis untuk dikembangkan sebagai upaya mencerdaskan, mengangkat harkat dan martabat masyarakat suku Bajo dan menempatkan mereka sebagai salah satu faktor kunci keberhasilan menjaga kelestarian fungsi ekosistem.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan uraian pada pembahasan dalam makalah ini maka yang menjadi kesimpulan adalah sebagai berikut.
  1. Urgensi Pemberdayaan Masyarakat Bajo di Pulau Katela Melalui Pendidikan Alternatif adalah banyaknya kemiskinan melanda masyarakat pesisir, termasuk masyarakat Pulau Katela. Terjadinya kemiskinan masyarakat pedesaan karena lemahnya aspek sumber daya manusia seperti pendidikan formal yang rendah, dan tidak memiliki keterampilan produktif, dan aksi yang dapat dilakukan untuk membantu penduduk miskin sehingga dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan kebodohan adalah pemberdayaan. Pemberdayaan merupakan suatu aksi, gerakan dan strategi dalam mengatasi masalah-masalah krusial individu dan kelompok. Proses pemberdayaan masyarakat marginal dilakukan melalui delapan langkah, yaitu  (1) menyusun kelompok kecil sebagai penerima awal atas rencana pemberdayaan, (2) mengidentifikasi/membangun kelompok warga belajar, (3) memilih dan melatih fasilitator kelompok, (4) mengaktifkan kelompok belajar, (5) menyelenggarakan pertemuan-pertemuan fasilitator, (6) pendukung aktivitas kelompok sedang berjalan, (7) mengembangkan hubungan di antara kelompok, dan (8) menyelenggarakan sebuah lokakarya untuk evaluasi. Dalam pemberdayaan melalui pendidikan, para pendidik berfungsi penolong atau fasilitator orang lain untuk berkembang. Proses pemberdayaan merupakan jalan menuju perubahan sosial ke arah kehidupan yang lebih baik dengan indikator kesiapan dalam menerima pengalaman baru, dan terbuka terhadap inovasi. Kegiatan pemberdayaan masyarakat marginal hendaknya dilakukan dengan tahap-tahap penyadaran, perencanaan, pengorganisasian, evaluasi dan pengembangan.  Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat adalah: (1) berkurangnya jumlah penduduk miskin, (2) berkembangnya usaha pendapatan yang dilakukan oleh penduduk miskin dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada, (3) meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (pendidikan), (4) meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya, (5) meningkatnya kemandirian kelompok dan anggotanya yang ditandai dengan berkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, dan (6) meningkatnya kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan.
  2. Alasan-alasan pemilihan pemberdayaan melalui pendidikan berbasis ecoliteracy masyarakat Bajo di Pulau Katela adalah (1) masyarakat Bajo merupakan masyarakat yang kurang beruntung, karena rendahnya tingkat pengetahuan, keterampilan, sikap kreatif, dan aspirasi pendidikan sehingga perlu diberdayakan melalui pengorganisasian dalam kelompok belajar untuk mendapatkan bimbingan dan latihan, (2) potensi mereka dapat dikelola secara optimal, baik potensi sosial budaya maupun potensi alam dan pemahaman akan pentingnya pelestarian lingkungan berhasil ditanamkan kepada mereka, maka masyarakat Bajo dapat meningkatkan kesejahteraannya melalui peningkatan pendapatan dari proses peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tanpa harus merusak lingkungan hidup, (3) sesuai dengan rekomendasi UNESCO bahwa abad XXI program pemberdayaan hendaknya mampu memberikan kesadaran masyarakat sehingga mau dan mampu belajar (learning know or learning to learn). Bahan belajar yang dipilih hendaknya mampu memberikan suatu pekerjaan alternatif kepada peserta didik (learning to do), dam mampu memberikan motivasi untuk hidup dalam era sekarang dan memiliki orientasi hidup ke masa depan (learning to be). Bahan ajar keterampilan selain untuk dirinya sendiri, juga keterampilan untuk hidup bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan hidup dalam pergaulan antarbangsa-bangsa dengan kesamaan dan kesejajaran (learning to live together), (4) berdasarkan usulan “Inovatif Konferensi Pendidikan Indonesia Mengatasi Krisis Menuju Pembaharuan”, 23-24 Februari 1999 adalah apa yang disebut dengan pendekatan pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat atau Community Based Education (CBE), (5) lingkungan alam yang terdiri atas berbagai ekosistem yang terbentuk atas berbagai komponen dan saling berinterakasi, secara alamiah menjamin kelangsungan siklus kehidupan, (6) berdasarkan kesepakatan Internasional di bidang lingkungan hidup yang digagas oleh United Nation Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Jenairo, menetapkan bahwa asas kesatu Agenda 21 adalah perlunya pembangunan berkelanjutan dengan menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, beserta hak-hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yangs sehat dan produktif serta serasi dan selaras dengan alam, dan (7) model pemberdayaan telah banyak dilakukan, tetapi pemberdayaan melalui pendidikan berbasis ecoliteracy khususnya masyarakat suku Bajo belum banyak, bahkan mungkin belum ada yang mencoba melakukannya.

5.2 Saran
            Saran-saran yang akan disampaikan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
  1. Pemberdayaan masyarakat Bajo di Pulau Katela melalui pendidikan berbasis ecoliteracy merupakan prasyarat mutlak untuk meningkatkan kuaitas hidup dan harkat dan martabat mereka.
  2. Perlu gerakan wajib belajar di kalangan orang Bajo di Pulau Katela mengentaskan anak-anak usia sekolah 7-14 tahun, sehingga anak-anak usia sekolah tidak buta huruf.
  3. Diperlukan kajian dan pengemabangan penelitian tentang eksistensi orang Bajo di Pulau Katela untuk menggali dan mengungkap potensi dalam kehidupan orang Bajo di Pulau Katela.




DAFTAR PUSTAKA

Anwar, 2004. Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Melalui Pelatihan Keterampilan Budidaya Ikan Laut alam Keramba (Kaji Tindak Pada Masyarakat Suku Bajo di Kecamatan Soropia Kabupaten Kendari). Laporan Hasil Penelitian. Kendari: Universitas Haluoleo

……., 2007. Manajemen Pemberdayaan Perempuan: Perubahan Sosial Melalui Pembelajaran Vokasional Skill pada Keluaga Nelayan Bajo. Bandung: Alfabeta.

Arthana, I Wayan, 2007. “Pembangunan yang tidak Dirancang Berkelanjutan”. Dalam: Jurnal Ecotrpohic. Volume 2 Nomor 2 Tahun 2007.

Asmin, 2002. “Konsep dan Metode Pembelajaran Orang Dewasa”. Dalam: Jurna Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor: 034 Tahun ke-8 Januari 2002.

Borg, W.R., and Gall, M.D,  1989. Educatioal Research An Introduction. New York: Logman.

Delors, J., et. al., 1996. Learning: The Treasure Within. Paris: UNESCO.

Depdikbud, 1999. Konferensi Pendidikan Indonesia Mengatasi Krisis Menuju Pembaruan. Jakarta: 23-24 Februari 1999.

Depdiknas, 2002. Pedoman Umum Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Keterampilan Hidup Melalui Pendidikan Broad Based Educational dalam Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda. Jakarta: Ditjen PLS dan Pemuda.

Hasibuan, N., 1999. “Kemskinan Struktural di Indonesia: Menembus ke Lapis Bawah”. Dalam Jurnal Studi Indonesia. Nomor 1 Volume-7 Tahun 1999.

Hikmat, Harry, 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: HUP.

(http:www.airmasinnet.tripod.com/index.bm.htm). akses 27 Desember 2007
(http:www.diknas.go.id/jurnal/32/pendidikan-polapemberdayaan.nas.htm). akses Maret 2008

http://www.kariadi. 8m.com/sorot.html). akses Maret 2008


Maleong, L. J., 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurhadi, 2007. Mengembangkan Jaringan Sosial Mengentaskan Kemiskinan. Yogyakarta: Media Wacana.

Purba Jonny, 2005. Pengelolaan Lingkungan Sosial. Jakarta: Kementrian Lingkungan Hidup dan Yayasan Obor Indonesia.

Qoid, A. et. al., 2000. “Studi Rekayasa Model Pembinaan Kelompok Masyarakat Nelayan Miskin di Pedesaan Pantai Jawa Timur”. Dalam Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Volume 12 Nomor 1 Februari 2000.

Sarman, M., dan Sajogyo, 2000. Masalah Penanggulangan Kemiskinan: Refleksi dari Kawasan Timur Indonesia. Jakarta: Puspa Sarwa.

Soekartiwi, 1999. “Strategi Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia Melalui IDT. Dalam Jurnal Studi Indonesia. Nomor 2 Volume 7 Tahun 1999.

Suhendra, 2005. Peranan Birokrasi dalam Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Alfabeta.

Sumodininggrat, G., 1999. Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Tampubolon, M., 2002. “Problematika dan Prospek Pembangunan Masyarakat Desa Ditinjau dari Segi Pendidikan Formal”. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor 039 Tahun ke-3 November 2002.

Waryono, P., 2004. “Menumbuhkan Kesadaran Ekologis Kajian Konsep Kajian Konsep Ecoliteracy Fritjof Capra”. Dalam Jalan Paradoks Visi Baru Fritjof Capra tentang Kearifan dan Kehidupan Modern. Editor: Budhi Munawar, et.al. Jakarta: Teraju.

Zahara, T. Dj., 2002 “Perilaku Berwawasan Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan Dilihat dari Keinovatifan dan Pengetahuan tentang Lingkungan”. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Nomor 036 Tahun ke-8 Mei 2002.

Zubaedi, 2007. Wacana Pembangunan Alternatif: Ragam Perspektif Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

 
 









 
UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BAJO DI PULAU KATELA MELALUI PENDIDIKAN BERBASIS ECOLITERACY: SEBUAH ANCANGAN








Disusun Oleh:



HARDIN
A1D1 05 015







FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2007












RIWAYAT HIDUP

Nama                           :  Hardin
Stambuk                      :  A1D1 05 015
TTL                             :  Latugho,27 Januari 1987
Program Studi :  Pendidikan Bahasa dan Sastra  Indonesia dan Daerah
Fakultas                       :  Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pengalaman Organisasi yang Pernah Di Ikuti:

Internal :
F Sekretaris Departemen Internal BEM FKIP Unhalu Periode 2006/2007
F Ketua Fraksi Pendidikan Bahasa dan Seni DPM FKIP Unhalu Periode 2007/2008
F Pengurus Mahasiswa Pecinta Mushala Saelanul Ilmi Periode 2007/2008
F Pengurus Lembaga Dakwah Mahasiswa At-Tafkir FKIP Unhalu Periode 2006/2007
F Anggota Majelis Permusyawaratan mahasiswa Universitas Haluoleo Periode 2008/2009
Eksternal
F Ketua Umum PK IMM IPS-Bahasa Unhalu Periode 2006/2007
F Sekretris Bidang Sosek PC IMM Kota Kendari Periode 2007/2008
F Pengurus Ikatan Mahasiswa Muna Indonesia (IMMI) SULTRA 2006/2007
F Sekretaris Umum Jaringan Mahasiswa Untuk Rakyat dan Demokrasi Periode 2007/2009
F Pengurus Kelompok Studi Mahasiswa Lawa (KOSMA Lawa) Periode 2007/2008
F Pengurus Masjid Jami’ Al-Ikhlas Kambu Kota Kendari Periode 2007/2008

Lomba / Karya Ilmiah Yang Pernah Diikuti:
Ø  Lomba Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Unhalu Tingkat Unhalu Tahun 2006 dengan Judul “Penerapan Cooperatif Learning Adaptasi Field Study dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (Harapan III)
Ø  Lomba Menulis Cerita Rakyat Tentang Pengelolaan Sumber Daya Terumbu Karang yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat Pesisir dan Pedalaman (LePMIL) tahun 2007
Ø  Finalis Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM) Penelitian tahun anggaran 2005 didanai Dirjen Dikti dengan Judul “Analisis Klausa Verbal dan Non Verbal dalam Bahasa Muna”.
Ø  Finalis Program Kreativitas mahasiswa Penelitian (PKM Penelitian) tahun Anggaran 2006 didanai Dirjen Dikti dengan Judul “Bentuk-Bentuk Honorifik dalam bahasa Muna”.
Ø  Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Tingkat Unhalu Bidang Ilmu Sosial dan Politik Program Dirjen Dikti tahun 2007 dengan Judul “Tuturan Katoba sebagai Produk dan Praktek Budaya  yang Mencerminkan seperangkat Norma dan Nilai Sosial-Budaya Islam yang dianut oleh Etnik Muna”. ( Harapan I)
Ø  Finalis Presentase Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Tingkat Wilayah Indonesia Timur Bidang Ilmu Sosial dan Politik Program Dirjen Dikti tahun 2007 dengan Judul “Tuturan Katoba sebagai Produk dan Praktek Budaya  yang Mencerminkan Seprangkat Norma dan Nilai Sosial-Budaya Islam yang dianut oleh Etnik Muna”. Bertempat di Hotel Bumi Asih Makassar (Harapan  IV)









DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL  ...................................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN  ........................................................................................... ii
KATA PENGANTAR  ................................................................................................... iii
DAFTAR ISI  .................................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang …………………………………………………………. …........ 1            
1.2  Rumusan Masalah  …………………………………………………………......... 2               
1.3  Tujuan Penulisan  …………………………………………………………........... 3                 
1.4  Manfaat Penulisan  ................................................................................................ 3

BAB II TINJAUAN  PUSTAKA
2.1    Pemberdayaan Masyarakat Pesisir ……………………………………................ 4            
      2.2  Teori Pemberdayaan Masyarakat…………………………………………….       4
      2.3  Konsep Pendidikan Ecoliteracy ………………………………………………     5
      2.4 Temuan Hasil Penelitian Relevan …………………………………………….      6
    
BAB III  METODE PENULISAN                                            
      3.1 Prosedur Penulisan…………………………………………………..................... 9
       3.2 Subjek pengambilan Data .......................................................................... ….      9
       3.3 instrumen…………………………………………………………………….      10
      3.3  teknik Pengumpulan Data………………………………………………............ 10
      3.4  Teknis Analisis Data ……………………………………………….................... 10
BAB IV. PEMBAHASAN
4.1 Urgensi Pemberdayaan Masyarakat Bajo di pulau Katela Melalui Pendidikan Alternatif……………………………………………………………………………..      11
4.2 Alasan-alasan pemilihan Pemberdayaan Melalui Pendidikan Berbasis Ecoliteracy pada Masyarakat Bajo di Pulau Katela ……………………………………………….............................................. 15
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ………………………………………………………………………..    19
5.2 Saran ………………… ..………………………………………………………..       21
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

















KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Mahasa Kuasa, karena berkat dan rahmat-Nyalah karya tulis yang berjudul “dinamika Perubahan Pola Hidup Orang bajo ” dapat terselesaikan.
Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk diikutsertakan dalam lomba karya tulis mahasiwa bidang lingkungan hidup. Di samping tujuan tersebut, penulisan karya ini juga bertujuan sebagai wahana latihan penulis untuk menuangkan ide, kreatifitas, inovasi dan ekspresif pemikiran terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup.
Penulis menyadari bahwa karya ini dapat diselesaikan berkat kerjasama dari semua pihak, terutama bimbingan penulis. Berkaitan dengan ini, sudah sepantasnyalah pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat kepada semua pihak, terutama pembimbing penulis dalam perlombaan ini
Penulis menyadari pula bahwa karya tulis ini belum sempurna. Masih banyak kekurangan dan kelemahan yang ada di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu untuk mengerjakan karya ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan.



Kendari, Oktober 2008


           Penulis






LEMBAR PENGESAHAN
HALAMAN PENGESAHAN


Nama                       :   Hardin
NIM                        :    A1D1 05 015
Program Studi         :    Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia dan daerah
Jurusan                    :    Pendidikan Bahasa dan seni
Fakultas                   :   Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Perguruan tinggi     :   Universitas haluoleo   

Judul                       :    Upaya Pemberdayaan Masyarakat Bajo di Pulau Katela Melalui Pendidikan Berbasis Ecoliteracy: Sebuah Ancangan


Karya tulis ini benar-benar telah diperiksa dengan teliti  untuk diajukan mengikuti lomba Karya Tulis Mahasiswa Wilayah Indonesia Timur Bidang Ilmu Sosial dan Politik
                                                                                  
                                                                Kendari, 25 Oktober 2008

Pembantu Dekan III,                                               Pembibing,



Drs. Sal amansyah., M. Sc.                                   La Ino., S. Pd., M. Hum
NIP 131 955 181                                                    NIP 132 318 659


Mengetahui,
Pembantu Rektor III
Bidang Kemahasiswaan

Prof. Dr. Murdjani Kamaluddin., SE. M.S
NIP 131 430 501













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar