Rabu, 29 Juni 2011

FILSAFAT HINDU : HUBUNGAN MANUSIA DENGAN TUHAN, HUBUNGAN DENGAN ALAM, DAN HUBUNGAN MANUSIA DENGAN MANUSIA


HARDIN
KAJIAN BUDAYA 2010

I. Pendahuluan
Filsafat India  “filsafat zaman kuno”  di India (aviksiki atau darsana =sistem) itu agak berlainan artinya dari filsafat modern. Lebih menyerupai “ngelmu” dari “ilmu”, lebih mendekati arti philosophia yang semula, lebih merupakan ajaran hidup yang bertujuan memaparkan bagaiaman orang dapat mencapai kebahagian yang kekal. Alam pikiran India boleh dikatakan “magic religius” dan dalam ini filsafat berkembang , tidaklah sebagai ilmu tersendiri melainkan suatu faktor penting dalam usaha pembebasan diri (Watra, 2006:24).
Bagus takwin (2003: 38), menguraikan bahwa; Awal mula Hindu tidak lepas dari agama Hindu, atau lebih luas lagi Hinduisme. Hinduisme adalah sebuah nama yang menaungi berbagai agama dan sebuah nama agama yang berbeda bernaung di bawahnya.
Pada dasarnya Hinduisme merupakan suatu kepercayaan satu kepercayaan monetheistik. Percaya hanya pada satu Tuhan. Hinduisme dikenal juga sebagai Sanathana Dharma, yang berarti “kebajikan”
Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan-Nya, dan manusia dengan sesamanya dalam ajaran Hindu disebut dengan Tri Hita Karana. Penulis, pada kesempatan ini akan mengulas ketiga aspek tersebut dengan menggunakan pendekatan filsafat Hindu.

II.    Hubungan Manusia dengan Tuhan
      Menurut pemahaman Hindu, manusia tidak dapat melakukan pelanggaran terhadap aturan Brahman (Yang Kuasa) karena kekuasaan Brahman mengaturnya, Yang mungkin terjadi adalah kekeliruan indra, karena manusia belum mampu menembus empat (4) lapisan yang menutupi Atman atau Brahman (Poedjawijatna dalam Takwin, 2008: 57).
      Pengertian dosa atau kejahatan dalam Brahmanisme adalah keterkurungan dalam yang maya (semu0 atau terkurung dalam kekeliruan indra (avidya). Kekeliruan itulah yang menyebabkan orang merasa ‘aku’ karena ia keliru melihat bahwa ‘aku-aku’. Kekeliruan itulah yang membuatnya melihat  ada keberagaman. Rasa kesadaran bahwa orang itu berbeda dari yang lain, baik manusia atau bukan manusia disebut Ahangkara (prinsip keakuan). Ahangkara  menarik manusia kepada hal yang bukan-bukan (sesuatu yang sebenarnya tidak ada). Itulah arti berdosa dalam pandangan filsuf Hindu.                     Ajaran agama Hindu mengajarkan umat Hindu untuk meyakini dan percaya dengan keesaan adanya Tuhan yang Maha esa. Tidak saja kepada Tuhan tetapi juga tetap percaya terhadap empat aspek yang lainnya. Ajaran tentang keyakinan dalam Hindu disebut Sraddha. Ada lima keyakinan dasar dalam agama Hindu (panca sraddha). Bagian-bagian  dari kelima Sraddha  tersebut meliputi: percaya dengan Tuhan (Widhi Sraddha), percaya dengan adanya percikan terkecil dari Tuhan (Atma Sraddha), percaya dengan segala perbuatanpasti membuahkan hasil dan diterima oleh yang melakukannya (Karma phala Sraddha), percaya dengan kehidupan manusia di dunia ini selalu mengalami penjelmaan kembali (Samsara atau Purnabhawa Sraddha), dan juga percaya dengan kelepasan manusia dengan ikatan duniawi (Moksa Sraddha).   
Untuk dapat mencapai alam itu, maka seseorang (yogi) hendaknya mempersembahkan semua keinginannya, kemarahannya, kelobaannya, keirihatiannya, kepada Bhatara Brahma yang akan dibakar dengan api Sang Hyang ongkara, sehingga terbebas dari segala mala. Kemudian mengadakan pemusatan pikiran yang tiada henti-hentinyakepada Bhatara siwa melalui swalingga atau atmalingga dan perwujudan lingga yang ada diluar diri denga sarana mantra atau “Ong namah Siwa ya”. Pada saat kematiannya akan mencapai kepada-nya (Tim Penyusun, 1999: 17)
            Manusia diciptakan oleh Hyang Siwa yang digambarkan seperti Omkara atau Pranava, yakni dada, lengan, kepala dan rambut (ongkara, ardhacandra, vindu, nada), sedang tubuh bagian dalam yakni paru-paru, limpa, jantung, empedu, ati (ongkara, ardhacandra, vindu, maira). Untuk mencapai kelepasan dapat ditempuh dengan enam jalan yoga yakni pratyahara, dhyana, pranayama, dharana, taka, dan Samadhi. (Watra, 2008: 107).
      Tingkah laku yang mengikuti Ahangkara memiliki akibat yang disebut karma yang disebut juga Kresna dalam Sloka 8.3 Bhagavad Gita sebagai perbuatan yang berhubungan dengan perkembangan badan-badan jasmaniah para makhluk hidup. Pada praktiknya karma artinya tindakan-tindakan manusia, pekerjaan-pekerjaan manusia dan terutama akibat-akibatnya. Karma inilah yang menghalangi kesatuan manusia dengan Brahman. Untuk mencapai Brahman, perlu dilakukan penghilangan karma. Kalau dalam satu kehidupan manusia tidak berhasil menghilangkan karma, maka ia lahir kembali (reinkarnasi). Dengan demikian, manusia akan menjalani rentetan kelahiran yang disebut Samsara. Bebaslah manusia  dari segala ikatan dunia. Kebebasan ini disebut imoksa. Dalam kondisi ini tidak ada abdi dan Tuhan, yang ada hanya satu: Brahman. Inilah ada yang sesungguhnya (sat), yang baka (chit), dan kebahagian sempurna (ananda). Atau dalam tradisi India disebut saccidananda yang berarti kesadaran yang sangat mendalam dan eksplosif mengenai Tuhan sebagai Tuhan di dalam Tuhan.
      Tentang pelepasan manusia dari karma, dalam Sloka 8.5 Bhagavad Gita, Kresna mengatakan:
“Siapapun yang meninggalkan badannya pada saat ajalnya sambil ingat kepada-Ku,
segera mencapai sifat-Ku. Kenyataan ini tidak dapat diragukan.” (Keramas, 2008: 67).
            Pencapaian sifat Yang Maha Kuasa atau moksa dapat terlaksana jika seluruh karma telah hilang. Pada saat itu seluruh diri manusia hanya ingat kepada Brahman, lepas pada pikiran tentang yang lain. Moksa merupakan pembebasan dalam kaitannya dengan  keabadian. Pencarian keabadian yang dilakukan manusia secara serius dan bersungguh-sungguh akan berujung pada moksa.

III.  Hubungan Manusia dengan Alam
Menurut para filsuf agama Hindu, manusia adalah bagian dari alam yang tak terpisahkan. Manusia, seperi juga makhluk launnya, berpartisipasi dalam karakter alam sebab segala sesuatu memanifestasikan dan mengomunikasikan realitas Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, pemahaman tentang manusiatak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang Yang Maha kuasa.Dalam manusia terdapat kekuasaan alam.
Pengamatan terhadap manusia membawa para filsuf Hindu pada pemahaman tentang pengertian manusia dan hubungannya dengan Maha Yang  Kuasa. Mereka melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada manusia tidak bertindak satu persatu, melainkan pada pendukungnya. Walaupun manusia ada kekuatan berjalan, melihat, mendengar, bercakap-cakap, dan seterusnya. Mata tidak melihat sendiri, telinga tidak mendengar sendiri, namun dipekerjakan oleh manusianya.Ada kesatuan dan keseluruhan pada manusia. Jadi menurut filsuf India hubungan manusia dengan alam semesta mengatakan bahwa segala kekuatan dengan alam semesta terdapat juga pada manusia. Di alam ada angina, pada manusia ada nafas. Ada matahari yang bersinar pada alam, ada mata yang bersinar pula pada manusia.  Alam  mempunyai bumi dan tumbuh-tumbuhan manusia mempunyai badan. Badai taufan pada alam dipersamakan dengan kemarahan pada manusia. Jadi menurut filsuf hindu, manusia merupakan pengkhususan alam. Manusia adalah alam kecil: mikrokosmos. Lalu kesimpulan mereka meloncat pada: ‘Kalau sifat-sifat alam pada manusia dan manusia adalah pengkhususan alam, maka pusat manusia adalah juga pusat alam. “kesimpulan terakhir: “Atman adalah Brahman dan  Brahman adalah atman. Manusia dan alam bukanlah dua hal, melainkan satu hal.Manusia dan alam adalah satu kesatuan (Poedjawijatna dalam Takwin, 2008: 48)
   Menurut filsuf India, Brahman atau Atman adalah pusat alam sekaligus pusat manusia.   Tetapi dalam diri manusia, kesadaran tentang Atman atau Brahman terbungkus oleh empat lapisan. Semakin dalam lapisan itu, semakin halus. Lapisan pertama adalah badan, lalu lapisan kedua adalah nafas, lapisan ketiga adalah budi, dan lapisan keempat adalah agnosis.
Jika manusia ingin merasakan dan mengalami kesatuannya dengan Brahman, maka ia harus merasakan kesamaannya dengan yang satu dan yang baka. Untuk itu ia harus menyalami diri sendiri. Dalam pandangan filsuf Hindu, barang siapa yang mengenal dirinya yang sebenarnya, melihat serta mengetahui sungguh-sungguh, maka ia mengenal dunia. Ia mengenal atman, oleh karenanya ia mengenal Brahman.

IV.             Hubungan Manusia dengan Manusia                                                                                      Pada hakekatnya agama apapun mengajarkan dua poros kehidupan utama yakni : hubungan manusia dengan sesama manusia ( habluminnannas ), hubungan manusia dengan alam (Hablumminallam) dan hubungan manusia dengan Tuhan-Nya ( hablumminnallah). Seperti juga dalam ajaran Hindu, Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan yang bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alam lingkungannya, manusia dengan sesamanya. Oleh karena itu jika kita benar – benar menerapkan secara mantap, kreatif dan dinamis dalam kehidupan ini niscaya terwujudlah kehidupan yang harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ), cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya.                                                                                                    Manusia saling mengasihi walaupun berbeda keturunan, ras, suku bangsa, dan negara tetapi ikatan silaturrahmi yang erat sesama makhluk yang diciptakan Tuhan,. Hubungan yang harmonis sesama manusia menciptakan perdamaian dunia, jauh dari segala persengketaan. Tidak akan terjadi malapetaka dan bencana alam jika manusia itu ramah terhadap alam, ramah terhadap lingkungannya, menjaga kelestariannya. Betapa indahnya isi dunia ini dengan alamnya yang elok, semua ini adalah karunia Tuhan. Kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan ketinggian teknologi adalah anugerah Tuhan yang berfungsi untuk memperindah dan memperelok alam ini.
            Hubungan baik manusia dengan manusia lainnya. Sebagai mahluk social, umat Hindu tidak dapat hidup menyendiri. Mereka memerlukan bantuan dan kerja sama dengan orang lain. Karena itu hubungan antara sesamanya harus selalu baik dan harmonis. Hubungan antar manusia harus diatur dengan dasar saling asah, saling asih dan saling asuh, saling menghargai, saling mengasihi dan saling membingbing. Hubungan antar keluarga dirumah tangga harus harmonis. Hubungan dengan masyarakat lainya juga harus harmonis. Hubungan baik ini akan menciptakan keamanan dan kedamaian lahir batin di masyarakat. Masyarakat yang aman dan damai akan menciptakan Negara yang tenteram dan sejahtera.



DAFTAR BACAAN
Keramas, Dewa Made Tantra. 2008. Filsafat Ilmu. Surabaya: PT Paramitha.
Takwin, Bagus. Filsafat Timur Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikiran Timur. Bandung: Jalasutra.
Watra, I wayan. 2008. Filsafat Timur (sebuah Pengantar dalam Memahami Filsafat Timur). Surabaya: Paramita.
              






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar